Aspek Dasar Dalam Perencanaan Tambang Yang Berorientasi


Good Mining Practice

Oleh : Tanzilullah
Ketua III PERHAPI KUTIM (Divisi Working Group)

 

Seiring dengan meningkatnya permintaan bahan material tambang untuk berbagai macam kebutuhan dalam bidang industri seperti otomotif, elektronik, penerbangan dan berbagai industri lainnya serta kemajuan perkembangan teknologi alat produksi tambang dan peralatan pendukungnya menyebabkan industri pertambangan berkembang pesat terutama dinegara-negara berkembang yang membutuhkan pendapatan dan devisa negara dalam jumlah besar. Hal ini berdampak terhadap besarnya volume dan kapasitas produksi serta luasan area tambang yang harus dibuka untuk memenuhi permintaan tersebut.
Disisi lain meningkatnya volume produksi dan luasan bukaan area tambang menimbulkan dampak yang semakin kompleks terhadap ekosistem, lingkungan dan juga kehidupan sosial masyarakat. Dampak terhadap kondisi dan situasi ini bisa berupa dampak negatif maupun dampak positif tergantung seberapa besar kepedulian para pelaku tambang menyikapi hal ini.
Perencanaan dan pengelolaan tambang yang baik dan benar akan meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan dan sebaliknya dampak positif bisa ditingkatkan. Secara umum orang sering mendengar istilah Good mining practice atau yang secara harfiah bisa diartikan sebagai praktek penambangan yang baik dan benar dengan mengikuti kaidah dan ketentuan penambangan yang sudah ditentukan sesuai aturannya. Secara lebih spesifik good mining practice bisa juga diterjemahkan sebagai perencanaan dan pengelolaan tambang dengan memperhatikan semua aspek dari hulu sampai ke hilir dengan meminimalisir dampak negative yang akan timbul serta mengoptimalkan dan memperbesar ruang dampak positif sehingga tambang tersebut memberikan kemanfaatan bagi semua pihak.
Ketentuan tersebut meliputi perizinan, teknis pertambangan, keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan, keterkaitan hulu sampai hilir, konservasi cadangan, nilai tambah dan pengembangan masyarakat dan wilayah sekitar tambang, serta mempersiapkan agenda penutupan dan pasca tambang, dalam bingkai peraturan perundangan dan standart yang berlaku, sesuai tahap-tahap kegiatan pertambangan.
Secara prinsip ada 9 hal mendasar yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan agar  suatu kegiatan penambangan bisa dikatakan sudah menerapkan prinsip good mining practice. Sembilan (9) faktor tersebut adalah :

1. Aspek kompetensi karyawan pekerja tambang

Kegiatan operasional tambang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar kompeten dibidang pertambangan. Para pelaku tambang bisa dikatakan kompeten apabila yang bersangkutan telah memenuhi standar uji kompetensi yang dilakukan oleh pihak yang berwenang atau lembaga yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah untuk melakukan sertifikasi. Ada 3 kriteria yang harus dipenuhi oleh seseorang pelaku tambang untuk dinyatakan kompeten, yaitu :

     
  • Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai dibidang tersebut
     
  • Memiliki keahlian dengan pengalaman minimal yang sudah ditentukan
     
  • Memiliki attitude yang baik dimana orientasi kerjanya adalah tanggung jawab moral terhadap apa yang dilakukan

 

Jika para pelaku tambang sudah memenuhi 3 kriteria ini diharapkan apa yang akan akan dilakukan dan dipraktekkan bisa memenuhi kaidah dasar dari aspek perencanaan dan operasional tambang.

2. Aspek desain dan rencana tambang

Semua desain yang dirilis oleh bagian technical dan engineering adalah desain yang sudah dikaji dan disetujui oleh bagian geotechnical untuk memastikan desain tersebut memenuhi standar faktor keamanan.
Ada 4 kriteria yang harus dipenuhi agar design bisa dirilis atau diimplementasikan :

     
  • Design bisa dan layak dikerjakan sesuai sumberdaya yang tersedia (workable)

Semua design yang dibuat bagian technical dan engineering harus memenuhi prinsip bahwa design bisa diimplementasikan oleh bagian operasional sesuai dengan sumberdaya yang tersedia sehingga tidak ada deviasi atau penyimpangan antara rencana dan aktual  

     
  • Faktor keamanan (FoS)

Faktor keamanan merupakan batasan dimana suatu desain dianggap aman dan layak untuk diimplementasikan dari sisi technical dan engineering. Banyak parameter yang harus dikaji untuk menghitung fakor keamanan suatu desain tergantung dari objek atau jenis struktur yang akan dianalisa. Secara sederhananya suatu desain dinyatakan aman apabila gaya penahan lebih lebih besar dari gaya pendorong dan beban yang bekerja pada struktur yang direncanakan. Dalam aturan dan standar engineering faktor keamanan minimal yang disepakati adalah 1.2.

     
  • Kajian resiko (Risk assessment)

Untuk proyek-proyek tertentu dengan skala kategori resiko menengah ke atas biasanya dilakukan analisa dan kajian resiko untuk mengidentifikasi masalah dan resiko yang kemungkinan timbul serta bagaimana cara mengontrol dan mengendalikannya sehingga desain dan rencana bisa diimplementasikan secara baik.

     
  • Kerangka dan rencana design

Semua design yang dibuat untuk kebutuhan jangka pendek sebaiknya mengacu ke  kerangka dan design jangka panjang untuk meminimalkan resiko dan dampak yang timbul serta menghindari pengulangan pekerjaan yang tidak perlu (re-work).

 

3. Pemilihan alat yang tepat serta perawatannya yang terencana dengan baik

Pemilihan alat untuk operasional tambang harus disesuaikan dengan fungsi dan kondisi area tambang sehingga tidak terjadi resiko diluar yang sudah diperhitungkan.  Ada beberapa pertimbangan dalam pemilihan alat operasional ini antara lain :

           
      • Target dan kapasitas produksi  
           
      • Kesesuaian ukuran antara alat gali dan alat muat
           
      • Jenis pekerjaan yang dilakukan
            Kondisi material di area tambang
           
      • Menggunakan teknologi terkini

      Selain pemilihan alat diatas, alatnya juga harus dilakukan perawatan secara teratur dan terencana dengan baik seperti misalnya penggantian engine tepat waktu sehingga gas buangnya tidak mencemari lingkungan .

Gambar 1. Aspek Dasar Good Mining practice dan hasil implementasinya

4. Keselamatan dan kesehatan kerja

Keselamatan dan Kesehatan kerja Tambang merupakan suatu system yang dibuat untuk mengidentifikasi dan mengontrol bahaya atau resiko dalam setiap kegiatan atau aktivitas penambangan sehingga kecelakaan kerja ataupun pencemaran lingkungan dapat dihindari dan diminimalisir.
Setiap perusahaan tambang dalam struktur organisasinya diwajibkan memiliki bagian Keselamatan dan kesehatan kerja untuk memastikan bahwa ketaatan terhadap aspek ini benar-benar dijalankan dan ditaati.

5. Dimensi dan kerangka waktu (time)

Dimensi dan kerangka waktu dalam implementasinya banyak terkait dengan masalah     perencanaan tambang dan target kepatuhannya mulai dari perencanaan desiain sampai ke dampak yang harus dikelola sehingga setiap resiko bisa dikendalikan lebih awal, lebih cepat dan lebih baik. Ada beberapa parameter kegiatan tambang yang berkaitan dengan kerangka waktu :

     
  • Umur tambang aktif
     
  • Tolerasi bukaan tambang yang terpapar sampai ditutup kembali (back filling)
     
  • Rencana pasca tambang sampai kembali terjadinya keseimbangan ekosistem

 

 

Dalam perusahaan tambang skala besar biasanya kerangka waktu untuk rencana dan kegiatan dibagi dalam 3 kategori:

     
  • Rencana jangka pendek, yaitu perencanaan dan pengelolaan kegiatan yang bersifat harian sampai 2 tahun kegiatan operasional. Semua kegiatan operasional serta dampak yang ditimbulkannya secara langsung seperti polusi udara (debu), air asam tambang dan pengelolaan kualitas air keluaran tambang (TSS, PH dan logam berat) berada dibawah kontrol rencana jangka pendek
     
  • Rencana jangka menengah, yaitu perencanaan dan pengelolaan kegiatan meliputi rencana 2 sampai 5 tahun kedepan. Rencana jangka menengah berfungsi untuk mengontrol dampak yang akan ditimbulkan oleh  kegiatan infrastruktur tambang seperti rencana pembangunan jalan, strategi pengelolaan air keluaran tambang secara keseluruhan operasional tambang, kajian teknologi terkini
     
  • Rencana jangka panjang, yaitu perencanaan dan pengelolaan kegiatan meliputi rencana 5 tahun sampai masa pasca tambang. Biasanya aspek yang harus dikelola antara lain rencana reklamasi pasca tambang, penggunaan dan tata ruang lahan menjelang dan pasca tambang, aspek kehidupan sosial masyarakat seperti masalah tenaga kerja, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dan lain-lain.

 

6. Biaya produksi yang kompetitif

Salah satu ciri perusahaan tambang yang sehat adalah perusahaan yang bisa mengelola biaya produksi dan biaya operasional secara kompetitif tanpa mengabaikan dan mengorbankan tanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan dan kehidupan sosial disekitar tambang. Dengan biaya produksi yang kompetitif perusahaan dapat menggerakkan roda bisnisnya sehingga bisa  bertahan dan beroperasi secara terus menerus. Jika hal ini terjadi tentunya akan berdampak langsung terhadap pembiayaan program pengelolaan lingkungan serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sekitar tambang. Dengan tingkat keuntungan yang lebih baik tentunya selain menambah pemasukan atau pendapatan Negara, perusahaan juga bisa berperan lebih banyak dalam membantu tanggung jawab sosial kemasyarakan (CSR). Berbagai cara dilakukan perusahaan tambang untuk melakukan kegiatan efisiensi dan penghematan dan salah satunya yang biasa dikenal sebagai improvement project untuk mendukung kegiatan produksi agar bisa biaya produksi bisa ditekan mencapai titik yang optimal.

7. Aspek lingkungan dan ekosistim

Salah satu dampak dari dibukanya suatu area tambang adalah terganggunya keseimbangan alami dan mata rantai ekosistem sehingga fungsi lingkungan berjalan tidak sebagaimana mestinya. Semakin besar area yang terganggu akan semakin kecil daya dukung tanah dan lingkungan untuk menunjang keseimbangan ekosistem. Sistem perencanaan tambang yang baik dan benar sangat berperan dalam menambah daya dukung tanah dan lingkungan dalam menjaga keseimbangan ini serta untuk mengontrol dan mengendalikan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Secara umum pencemaran lingkungan ini dikategorikan sebagai pencemaran tanah, air dan udara. Metode dan pengelolaannya dari sisi perencanaan disesuaikan potensi pencemaran yang akan terjadi.
Untuk kegiatan yang potensi pencemarannya berdampak terhadap kerusakan tanah penanganannya antara lain :

     
  • Pemisahan tanah pucuk untuk menjaga kualitas unsur hara saat dilakukan pemindahan tanah penutup.
     
  • Pengelolaan area penimbunan berbasis pemisahan PAF dan NAF untuk mencegah potensi terjadinya air asam tambang
      Penimbunan dan penanaman segera area bekas tambang untuk meminimalkan sedimentasi dan pemulihan fungsi tanah
     
  • Mengelola hydrocarbon dan limbah B3 secara benar

 

Untuk kegiatan yang potensi pencemarannya berdampak terhadap pencemaran air permukaan dan air tanah penanganannya antara lain :

     
  • Mengelola air keluaran tambang dengan konsep pengelolaan dihulu atau mulai dari area bukaan tambang
     
  • Pengelolaan area penimbunan berbasis pemisahan PAF dan NAF untuk mencegah potensi terjadinya air asam tambang
      Membuat beberapa titik penaatan berjenjang, pengecekan kualitas air secara rutin dan berkala baik itu TSS, PH ataupun kandungan logam berat

 

Sedangkan kegiatan yang potensi pencemarannya berdampak terhadap pencemaran dan polusi udara penanganannya antara lain :

     
  • Melakukan penyiraman air secara berkala di area kerja.
     
  • Membuat rencana peledakan dengan tingkat vibrasi dan airblast yang tidak melebihi ambient atau standar yang sudah ditentukan
      Pengukuran tingkat polusi udara dan debu secara berkala
      Penggunaan masker dan kacamata pelindung di area kerja yang terpapar debu

 

8. Aspek sosial kemasyarakatan

Tidak bisa dipungkiri bahwa pembukaan suatu lahan area tambang akan memberikan dampak yang significant terhadap perubahan kehidupan sosial masyarakat seperti : prilaku dan pola hidup, pekerjaan, mata pencaharian, taraf dan kesejahteraan masyarakat. Satu hal yang paling penting untuk ditekankan adalah bahwa keberadaan tambang harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang ada disekitar tambang.
Ada beberapa faktor yang bisa dipertimbangkan untuk mengelola dan meminimalisir dampak tambang terhadap aspek sosial dan masyarakat :

     
  • Dalam batas-batas tertentu sebaiknya area tambang direncanakan jauh dari area pemukiman penduduk sehingga friksi dan dampak langsungnya juga bisa diminimalisir.
      Pengelolaan air keluaran tambang secara terintegrasi sehingga yang dihasilkan bukan banjir melainkan sumber air minum untuk masyarakat.
      Hindari interaksi langsung proses ataupun dampak kegiatan tambang dengan aktvitas masyarakat misalnya penggunaan jalan angkut overburden dan batubara yang sama dengan jalan umum, pembangunan stockpile batubara terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dan lain-lain.
      Melibatkan masyarakat untuk beberapa kegiatan yang menunjang operasional tambang misalnya pengadaan barang dan kebutuhan dari masyarakat lokal, pelatihan operator dan mekanik dari tenaga kerja lokal dan lain-lain.
       

 

9. Aspek prosedur dan ketaatan hukum

Perusahaan tambang termasuk salah satu industri yang sangat besar resiko dan dampaknya. Semua aspek dan tahapan kegiatan tambang berpotensi langsung terhadap timbulnya resiko tersebut jika tidak ada kontrol lebih awal atau didepannya. Salah satu kontrol adalah perlunya pemenuhan aspek legalitas dan ketaatan hukum terhadap kegiatan operasional tambang. Beberapa hal yang harus dipenuhi untuk berlangsungnya kegiatan operasional tambang :

     
  • Perijinan operasional tambang seperti : Studi kelayakan, AMDAL, RKTTL dan RKAB, UKL dan UPL
     
  • Perijinan pengelolaan limbah seperti : Limbah B3, Limbah cair dan lain-lain
      Perijinan lahan seperti : Ijin pembukaan lahan dan Ijin pemanfaatan kayu (IPK)
      Pemenuhan biaya jaminan reklamasi (Jamrek)
      Dan lain-lain.

 

Jika semua aspek ini sudah diperhatikan dan dipraktekkan secara baik , benar dan terintegrasi serta didukung penuh oleh pemilik perusahaan dan peran pemerintah sebagai fasilitator tentunya berdampak terhadap pembangunan berkelanjutan di area tempat operasional tambang sehingga outputnya adalah terjadinya masyarakat mandiri pada akhir pasca tambang.


 

 

 

 

 

 

About Us

PERHAPI KUTIM berdiri tahun... .
more..


Good Mining Pratice